Monday, August 18, 2008
Muda & Kaya, Kok Bisa?
Diambil dari majalahpengusaha.com
Friday, 27 June 2008
Dengan simpanan Rupiah dan aset sebesar US$ 310 juta, jadilah ia satu dari duapuluh orang paling makmur di tanah air pada tahun 2006. Hebatnya, itu semua dikantonginya di usia yang relatif muda, yakni 40-an. Begitu luar biasa dirinya, bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sudah puluhan tahun menjadi penerus bisnis keluarga, tidak bisa mengungguli total kemakmurannya.
Latar belakang pendidikannya adalah dokter gigi. Tetapi alih-alih buka praktik sebagai dokter gigi, ia lebih getol buka usaha kecil-kecilan semenjak kuliah di Universitas Indonesia. Diawali kucuran dana Rp 150 juta dari Bank Exim (sekarang sudah dilebur menjadi Bank Mandiri), dengan nyali yang menyala-nyala, pria kelahiran 16 Juni 1962 ini mendirikan pabrik sepatu anak-anak dengan merek Butterfly.
Di bawah panji Para Group yang dimilikinya, ia mengambilalih Bank Mega pada tahun 1996 dan menyulap Bank Tugu menjadi Bank Mega Syariah akhir tahun 90-an. Imperium bisnisnya yang lain adalah Trans TV dan Trans 7, yang didukung 20-an menara pemancar. Program-program televisi andalannya diklaim lebih kreatif ketimbang saingan-saingannya. Sebut saja Bajaj Bajuri, Extravaganza, dan Empat Mata. Ia juga membangun Bandung Supermall yang mentereng di lahan seluas 3 hektar yang menelan dana nyaris Rp 100 milyar. Siapakah dia? Tak lain, tak bukan, dialah Chaerul Tanjung.
Pengusaha penuh nyali yang pernah dianugerahi oleh sebuah media cetak sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh ini, dinilai prestasinya tidak sesederhana penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya –yakni keuangan, multimedia dan properti– menunjukkan prestasi yang serba kemilau dan memukau. Bahkan terealisir dalam waktu yang sangat singkat! Salah satu rahasianya, selain bernyali, sejauh ini ia dianggap lihai dan piawai menjalin hubungan dengan penguasa dan sesama pengusaha, termasuk keluarga Salim.
Uniknya, ia pernah digosipkan dekat dengan Maia Ahmad, personil Ratu. Apalagi Maia tiba-tiba bisa saja menjadi bintang tamu rutin di Extravaganza. Terlepas itu, sebagai pemimpin di Yayasan Indonesia Forum, dia merumuskan Kerangka Dasar Visi Indonesia 2030 yang disebut-sebut Presiden SBY sebagai visi nasional. "Kita memerlukan suatu pandangan objektif terhadap masa depan bangsa Indonesia dalam jangka panjang. Yakni, suatu visi yang positif dan optimis bahwa kita bisa menjadi negeri terpandang di mata dunia internasional," ujarnya.
Awal 2006, Chaerul dikabarkan memasuki bisnis pembangkit listrik energi panas bumi (geothermal) dengan meneken kesepakatan kerja sama operasi dengan Direktur Utama PT Pertamina Widya Purnama di Jakarta. Investasi nekat ini diperkirakan menguras biaya US$ 1,5 miliar atau Rp 15 triliun. Modal pengembangannya berasal dari patungan antara Grup Para dengan Pertamina. Bila masih kurang, ia berencana menambalnya dengan membuka infrastructure fund, sehingga investor lain bisa nimbrung.Proyek ini akan berjalan selama 10 tahun dan rencananya akan menggamit PT PLN sebagai pembeli listrik. Betul-betul cerdik! Tentunya listrik dari panas bumi lebih murah dibandingkan dari pembangkit yang berbahan bakar minyak. Ancar-Ancarnya, listrik besutannya akan dijual 25 persen lebih murah. Ia adalah pengusaha pertama yang berinvetasi di bisnis panas bumi. Selama ini pengusaha lain tidak bernyali menerobos bisnis ini, karena dicap rawan resiko. Berani, itulah ciri utama dirinya yang membedakannya dengan pengusaha kebanyakan. Tetapi bukan sekedar berani, melainkan keberanian yang dibungkus dengan kreativitas.
*)Penulis bestseller, pembicara seminar, dan produser Andalus. Bukunya yang ke-7 adalah 10 Jurus Terlarang
Sunday, August 17, 2008
Kredit berbasis syariah
Berbagai ketentuan pemerintah seperti modal minimum dan capital adequacy ratio yang lunak dibandingkan BPR konvensional membuat BPR Syariah lebih pesat berkembang.Salah satunya BPRS AlSalaam. Sukatna
Awalnya BPR AlSalam didirikan untuk motif sosial semata-mata. Namun dalam perkembangannya BPR Syariah yang dimodali Rp 60 juta tersebut bisa dijadikan sumber tumpuan untuk berbagai keperluan konsumennya, termasuk di dalamnya untuk pengembangan usaha.
“Para alumni Mesjid Salman ITB Bandung yang hidupnya sukses di Jakarta ingin melakukan kegiatan sosial melalui Yayasan Amal Salman, salah satu yang didirikan yayasan itu adalah BPRS AlSalam yang modalnya Rp 60 juta. Itu sebabnya sebagian besar pendiri BPR AlSalaam adalah alumni Mesjid Salman ITB,” kata Cahyo Kartiko, Direktur BPR AlSalaam, beberapa waktu lalu.
Lembaga pembiayaan yang didirikan 29 Februari 1992 ini telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Ini bisa dilihat dari pertumbuhan asetnya. Pada tahun 2001 asetnya baru Rp 5 miliar selang empat tahun kemudian atau 2005 sudah membengkak menjadi Rp 65 miliar. Kini asetnya sudah mencapai Rp 75 miliar, jumlah pembiayaannya Rp 60 miliar. Ada 8.000.970 nasabah yang dibiayai. Sedangkan dana deposito dari 600 nasabah sekitar Rp 44 miliar. Sedang nasabah tabungan berjumlah sekitar 10 ribu orang, namun nilai tabungannya hanya Rp 2,7 miliar. Angka-angka ini menujukkan betapa kinerja AlSalaam sangat bagus. AlSalaam memiliki 4 kantor kas, 7 payment point dan 3 mobil kas.
Perkembangan AlSalaam ini tidak terlepas dari strategi yang ditempuhnya. Di antaranya pindah haluan dari BPR konvensional ke BPR Syariah. Tetapi, meski pola pembiayaannya sudah berubah haluan tetapi segmen yang dibidik tetap sama, yakni pasar mikro, kecil, dan menengah. “Kami memberikan pembiayaan kepada usaha UKM, PNS, karyawan dan pensiunan. Penggunaan dananya sendiri bisa untuk kepentingan konsumtif, bisa untuk keperluan produktif,” papar Cahyo.
Menurut Cahyo, pihaknya membidik pembiayaan di bawah Rp 50 juta sehingga tidak head to head dengan bank umum konvensional. “Kita juga melayani pembiayaan yang kecil-kecil, seperto Rp 1 juta. Tetapi batasnya sampai Rp 1 miliar. Dari pengalaman kita yang terbesar Rp 700 juta. Itupun tidak diberikan tidak secara langsung melainkan bertahap. Misalnya, Rp 50 juta dulu, kemudian naik menjadi Rp 100 juta dan setreusnya sehingga jumlah totalnya Rp 700 juta,” sebut Cahyo.
Tidak perlu syarat yang aneh-aneh dan proses yang bertele-tele untuk bisa mendapatkan pembiayaan dari AlSalaam. “Persyaratan umum saja seperti administrasi, pemenuhan analisa pembiayaan yang 5 C (capital, cash flow, caracter dsb). Selama memenuhi persaratan kita proses,” terang Cahyo.
Sementara itu pembiayaan untuk PNS dan pensiunan lebih condong ke arah kemampuan mengangsur, seperti seperberapanya dari jumlah gaji. “Kalau pengusaha kecil harus benar-benar kita analisa apakah usahanya benar-benar ada dan apakah kredibilitasnya terjaga selama peminjaman.
Dengan berpindahnya jenis pembiayaan dari konvensional ke syariah, kolateral menjadi bukan pertimbangan utama dalam pemberiaan pembiayaan AlSalaam. Pemberian syariah produknya kalau tidak bagi hasil ya jual beli. “Kalau jual beli kolateralnya barang yang dibeli,” imbuh Cahyo.
Tetapi untuk bagi hasil Cahyo mengakui belum sepenuhnya dilaksanakan. Tetapi secara Standar of Procedure (SOP) bagi hasil lebih condong ke bagaimana nasabah mengelola usahanya sehingga bisa menghasilkan keuntungan. “Dari keuntungan itulah jaminan kita. Selain kondite 5 C, jaminannya ya usaha itu sendiri.”
Karena sifat kolateralnya yang demikian itu, menurut Chayo, perlu adanya pemikiran yang lebih hati-hati dan cermat. Artinya, bank sebagai pemutus pembiayaan harus bisa meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa usaha yang dibiayai menguntungkan dan tidak mengandung risiko baik bagi bank sendiri maupun bagi nasabahnya.
Selain persyaratan yang tidak begitu njlimet, pengambilan keputusan untuk pengucuran pun tidak bertele-tele. Bahkan untuk pembiayaan yang sifatnya memang tidak berisiko daan segmen pasarnya captive seperti PNS maupun pensiunan, pembiayaan bisa satu hari cair. “Tetapi untuk nasabah umum yang membutuhkan analisa paling telat satu minggu,” janji Cahyo.
Mungkin yang masih membingungkan nasabah adalah bagaimana pola pembiayaan syariah. Dalam pembiayaan syariah dikenal jual beli (al-murabahah) dan bagi hasil (mudharabah). Dalam jual beli pembiayaan yang dilakukan sudah ditetapkan di muka. Misalnya nasabah ingin membeli sepeda motor yang harga tunainya Rp 12 juta. Pihak bank memeblikan motor tersebut kemudian menjualnya ke nasabah dengan harga, misalnya Rp 16 juta. Nilai itu kemudian dibagi jangka waktu pengangsuran, sehingga pengembalian nasabah bersifat fix tidak floating.
Kalau bagi hasil dasarnya dari omset per bulan. Misalnya nasabah punya usaha penerbitan dengan omset per bulan Rp 10 juta. Setelah mendapat pembiayaan dari bank syariah omset naik menjadi Rp 20 juta. Maka bank maupun nasabah berbagi hasil yang Rp 20 juta itu. Kalau pada bulan berikutnya mengalami penurunan omset, misalnya Rp 15 juta maka yang dibagi adalah Rp 15 juta. “Yang dipatok adalah bagi hasilnya, misalnya 60:40, tetapi berapa rupiahnya tergantung dari hasilnya. Demikian juga ke nasabah penabung maupun deposan yang ditetapkan adalah bagi hasilnya bukan rupiahnya sehingga dari waktu ke waktu nilai rupiahnya bisa berbeda. Bulan lalu ekuivalent dengan bunga 15%. Dengan sistem ini akan sangat fair, baik bagi penabung, bank maupun pengusaha penerima dana pembiayaan,” ujar Cahyo.
Dengan berbagai keunggulannya tersebut Cahyo yakin pembiayaan syariah, demikian juga BPR AlSalaam akan mengalami perkembangan yang pesat. Meski baru beberapa tahun berkembang namun BPR Syariah memiliki beberapa kemudahan dibandingkan bank konvensional maupun BPR konvensional. Terkait pengembangan kantor, kalau di BPR konvensional terkait CAR kalau kita nggak. Modal minimum kita juga lebih rendah. Kalau konvensinal Rp 5 miliar kalau syariah ‘hanya’ Rp 2 miliar (Jakarta),” pungkas Cahyo.
Proses Pencairan Pembiayaan BPRS AlSalaam
Nasabah mengajukan permohonan pembiayaan disertai foto kopi identitas diri, kartu foto kopi kartu tanda penduduk, foto kopi kartu keluarga, foto kopi jaminan yang diberikan.
Dalam permohonan pembiayaan juga harus disampaikan mengenai usahanya baik dari lokasi, riwayat usaha dan kondisi terakhirnya. Masalah keuangan, penjualan barang, pengambilan barang, foto kopi enam bulan terakhir tabungan atau giro, surat-surat bukti kepemilikan atas jaminan. Kalau motor BPKB-nya dan STNK, kalau tanah foto kopi Sertifikat Hak Milik (SHM) dan SPT terakhir.
Syarat-syarat itu diajukan ke customer service atau account officer. Mereka membuat memorandum pembiayaan dan analisa ke komite kredit. Di komite kredit permohonan ini diputuskan untuk diterima atau ditolak. Kalau diterima diserahkan ke bagian legal untuk membuat legalitas atas pembiayaan itu.
Kalau permohonan diterima, nasabah dipanggil untuk mencairkan uang. Untuk pinjaman PNS atau pensiunan biasanya memakan proses satu hari (cair), tetapi untuk nasabah umum paling lambat satu minggu (cair).
Rental Perlengkapan Si Buah Hati
Pasangan suami istri yang baru memiliki momongan cenderung membeli semua perlengkapan bayi mereka. Nasib perlengkapan itu akan menjadi barang bekas ketika anak beranjak dewasa. Mengapa tidak menyewa saja?
Rasanya ada berjuta barang yang harus disiapkan untuk menyambut kedatangan si buah hati. Segala pernak-pernik yang tersedia di toko khusus perlengkapan bayi menjadi wajib untuk dibeli. Ditambah, bentuk serta warna lucu memiliki daya antusias tersendiri bagi para ibu baru tersebut.
Besarnya rasa kasih sayang untuk memberikan pelayanan terbaik terkadang tidak diimbangi dengan tingkat pemanfaatan perlengkapan bayi pada masa mendatang. Seiring bertambahnya usia anak maka barang-barang tersebut pun tak terpakai. Bahkan tak jarang hanya bertumpuk di gudang hingga berdebu dan usang.
Fenomena di atas menginspirasikan Tedriya untuk memanfaatkan peluang. Perempuan yang akrab disapa Ia ini membuka jasa rental perlengkapan bayi, bisnis yang tergolong baru. “Usaha penyewaan perlengkapan bayi ini berjalan baru tiga bulan tetapi untuk publikasinya dilakukan awal tahun 2007 melalui berbagai iklan di surat kabar maupun selebaran brosur,” ujarnya.
Ini bermula dari pengalaman pribadi ketika melahirkan putra pertamanya bernama Al Khrisna Naufalisdzaki. Ia membeli semua perlengkapan bayi seperti pakaian, tempat tidur, bantal dan guling, sampai baby walker, baby troller, dan kelambu dengan asumsi dapat disimpan dan digunakan kembali untuk anak selanjutnya atau dihibahkan ke orang lain. Namun kenyataanya justru jadi barang rongsokan di gudang.
“Wah, pokoknya barang-barang tersebut numpuk di gudang. Memang bisa digunakan lagi lain waktu. Tapi, males juga membersihkan benda kotor dan penuh debu,” akunya.
Ia menambahkan, seringnya mendengar beberapa ibu mengeluh dengan harga perlengkapan bayi yang tergolong mahal namun hanya dapat digunakan sekali saja menguatkan keinginannya untuk menekuni rental perlengkapan bayi dengan serius.
Usaha yang diberi nama Baby’s World ini, menyediakan sewa berupa perlengkapan bayi antara lain tempat tidur bayi, baby walker, baby troller, kelambu dan lainnya. Usaha yang dimulai dengan modal Rp 10 juta.
Dimulai pelanggan pertama pada 27 Januari 2007, Baby’s World yang terletak di Jl. Raya Pondok Duta, Depok ini sudah memiliki 34 pelanggan. Tak hanya sebatas wilayah Depok saja tapi sudah melanglang hingga Bintaro, Pondok Aren, Pluit, Ciledug bahkan Tangerang. “Terkadang saya sedikit kesulitan untuk jasa antar. Saya hanya bisa mengantar barang pada hari Sabtu dan Minggu,” kata perempuan berusia 27 tahun ini. Ia pun membuat ketentuan untuk penyewaan perlengkapan bayi di rentalnya. “Minimal lamanya penyewaan adalah satu bulan,” tandasnya. Kemudian ditambah persyaratan lain berupa kelengkapan fotocopy kartu keluarga, KTP dan rekening listrik atau telepon.
“Maklum, sekarang banyak status kepemilikan rumah sifatnya sewa. Jadi, ini untuk mengantisipasi terjadinya penipuan data yang nantinya dapat berdampak kerugian bagi usaha ini,” terang Ia.
Selain itu, Ia menetapkan setiap penyewa yang ingin meminjam perlengkapan bayi harus datang langsung ke rentalnya. Tak hanya itu, tingkat profesionalisme menjalankan usahanya dilampirkan surat perjanjian sewa-menyewa antara kedua belah pihak. “Sehingga jelas aturan-aturan yang menjadi hak dan kewajiban kedua belah fihak,” jelas lulusan Fakultas Ilmu Komputer Gunadarma ini.
Sedangkan untuk patokan harga sewa selama masa promosi hingga November mendatang untuk tempat tidur bayi dimulai antara Rp. 1000,- hingga Rp. 2500,- lengkap dengan kasur, bantal, guling dan kelambu. Sewa baby walker Rp. 10.000,- per bulan, dan baby troller Rp. 15.000,- per bulan.
Namun, harga akan kembali normal setelah masa promosi habis. Adapun perincian harga yang ditawarkan untuk sewa tempat tidur plus kasur, bantal, guling dan kelambu tetap sama. Berbeda dengan sewa baby walker mencapai Rp. 12.500,- per bulan dan baby troller seharga Rp. 20.000,- per bulan.
Bagaimana solusi yang ditawarkan bila terjadi kerusakan barang yang dilakukan si penyewa? “Penyewa akan dikenakan tambahan biaya jika barang yang disewa terjadi kerusakan maupun noda permanen. Biasanya untuk noda permanen, saya meminta ganti rugi sebesar Rp.30.000,-. Lalu, dari biaya tersebut dialokasikan untuk pembersihan ke laundry,” jelasnya.
Ia pun mengungkapkan teknik merawat perlengkapan bayi yang disewakan. “Saya membersihkannya setiap hari, meski pun sudah ditutupi dengan plastik transparan. Hal ini penting untuk memberikan pelayanan terbaik bagi penyewa,” ungkap Ia serius. Tak hanya itu, Ia pun sering menyarankan kepada penyewa agar peralatan-peralatan yang dipinjam terlebih dahulu dijemur di tempat panas. “Ini untuk mengurangi kelembaban barang sehingga mengecilkan kemungkinan timbulnya jamur dan bakteri,” imbuhnya.
Ketentuan Rental Baby’s World
Tempat Tidur Bayi (selanjutnya disingkat TTB), Kasur Bayi, Kelambu, Baby Walker, Baby
Trolley harus dikembalikan dalam keadaan baik.
2. Pelanggan wajib mengganti jika terjadi kerusakan dengan harga : TTB Besar 700 ribu, TTB
Oval 550 ribu, TTB Kayu 600 ribu, TTB Rotan/Besi 350 ribu. Sedangkan untuk Kasur Bayi 200
ribu, Baby Walker 250 ribu, Baby Trolley 400 ribu dan Kelambu 150 ribu.
3. TTB, Kasur Bayi, Kelambu, Baby Walker, Baby Trolley tidak diizinkan untuk dioper kepada
orang lain.
4. Keterlambatan dikembalikannya TTB, Kasur Bayi, Kelambu, Baby Walker, Baby Trolley akan
dikenakan denda sebesar jumlah sewa hariannya.
5. Biaya kirim akan dikenakan kepada penyewa minimal Rp 25 ribu (tergantung daerah antar).
Peluang bisnis barang bekas
Banyak orang yang berburu barang seken atau bekas. Alasannya jelas, mutunya tak terpaut jauh dengan barang baru tetapi dengan harga jauh lebih miring. Anita Surachman
Ketika barang bekas bertumpuk di pojokan rumah, dan mengganggu pandangan mata, mungkin terbersit di pikiran Anda untuk membuangnya. Atau menjualnya secara murah ke tukang loak. Pikiran Anda yang seperti ini, secepatnya harus dikoreksi. Ada kesempatan untuk menjual barang bekas dengan harga yang pantas. Salah satu pilihannya adalah menitipkan barang tersebut ke Depobabe, di Jalan Delima Raya Klender, Jakarta Timur.
Depobabe, akronim dari depo barang bekas, memang bukan yang pertama dan satu-satunya. Tetapi konsepnya agak berbeda dengan bisnis sejenis. Depobabe menyediakan tempat untuk penjualan barang bekas dengan sistem titip jual. Harga dari barang-barang yang dipajang tertera jelas, layaknya barang yang dijual di supermarket atau hypermarket.
Mungkin Anda bisa mencari barang bekas di “pasar tradisional” seperti Senen, Jatinegara, Taman Puring atau di Jalan Surabaya. Tetapi kemungkinan Anda akan mengalami kerepotan terkait dengan jenis barang yang dicari dan konsep harga serta kesempatan untuk mencoba. Kelemahan-kelemahan inilah yang dibenahi oleh Depobabe. Dikonsep menyerupai minimarket pembeli tidak perlu repot menanyakan harga barang karena pada lebel produk sudah tertera harga sehingga tidak repot untuk tawar menawar lagi. Pembeli juga bebas mencoba barang yang ada. Selain itu, digerai ini produk barang seken yang ditawarkan bervariasi, mulai barang bernilai ribuan hingga jutaan rupiah. Mulai dari pemotong rumput sampai keyboard.
“Waktu itu ada teman saya yang hendak pindah rumah, tetapi dia tidak mau membawa barang-barangnya. Tetapi untuk menjual barang tersebut juga susah. Kalaupun ada yang yang mau beli harganya tidak sesuai karena terlalu murah. Lalu pada saat itu juga ketika saya sedang jalan-jalan ke Bandung, saya melihat ada outlet yang khusus menjual barang-barang seken, dari situ saya berpikir untuk memiliki usaha seperti ini di Jakarta. Respon dari masyarakat pun sangat baik, dengan adanya gerai Depobabe ini,” cerita Endang Purwanto pemilik sekaligus pengelola gerai depobabe.
Dituturkan Endang, “gerai yang berdiri sejak 8 Agustus 2004 memiliki prospek bagus. Ini menilik perjalanan bisnis sejenis di Bandung yang tumbuh besar meski awalnya mulanya sangat kecil. Saya mengamati dan mempelajari gerai-gerai di Bandung. Dan ternyata di Jakarta belum ada. Kalau pun ada, konsep yang diusung berbeda dengan konsep Depobabe”.
Bagi Endang, bisnis ini membawa tantangan tersendiri. Di masyarakat ada suatu penilaian bahwa barang seken itu jelek Tetapi pada sisi lain banyak juga orang yang berburu barang bekas. Tantangan itulah yang mengilhami Endang untuk meningkatkan derajat barang bekas, mulai dari setting gerai, pengaturan letak barang hingga penentuan harga serta sistemnya.
Dengan sistem ini tidak semua barang bekas bisa dititipkan. Aturan mendasarnya adalah: si penitip haruslah si pemilik barang dengan melampirkan foto kopi KTP, nomor telepon dan diperkuat dengan surat perjanjian yang menegaskan bahwa yang bertanggung jawab adalah si penitip barang.
Selain itu ada kualifikasi lain yang digunakan untuk menyeleksi bisa tidaknya barang dititipkan ke Depobabe. Barang dengan kualifikasi rusak atau rongsokan, barang terlarang menurut undang-undang yang berlaku seperti barang curian, barang yang berunsur fornografi, barang yang mengandung obat-obat terlarang, barang yang mengandung makanan, barang yang mengandung bahan aktif atau zat kimia, barang yang mengandung cairan, gas atau bahan yang mudah terbakar, barang berupa benda hidup seperti binatang peliharaan, tanaman hias atau tumbuh-tumbuhan, ikan hias, barang berupa senjata api atau senjata tajam, barang yang bisa mengganggu atau mencemari lingkungan sekitar, tidak bisa dititipkan di Depobabe.
Dengan mekanisme tersebut Depobabe bisa menerima titipan barang-barang elektronik, alat-alat rumah tangga, perlengkapan bayi, sparepart kendaraan, alat-alat musik, fashion, mainan, boneka, barang over stock, barang factory outlet, barang sisa ekspor impor, barang eks kado atau eks hadiah, barang seken milik selebritis, benda seni atau hiasan, barang koleksi dan barang antik.
Bagi pemilik yang menitipkan barangnya, akan dikenakan biaya penitipan yang terdiri dari biaya administrasi dan biaya display. Biaya display adalah biaya yang dikenakan kepada barang yang ukurannya lebih dari 100 CM3 atau yang memerlukan lebih dari satu orang untuk memindahkannya. Contohnya lemari yang memakan tempat dan tenaga untuk mengangkatnya. Biaya penitipan tersebut dibayar oleh penitip ketika barang titipan diterima Depobabe dan ketika penitip memperpanjang masa penitipannya. Besarnya biaya penitipan untuk masa penitipan dua minggu ataupun sebulan adalah sama. Jangka waktu penitipan barang digerai ini sampai dua bulan. Jika tidak laku maka barang akan dikembalikan kepada pemiliknya. “Biasanya semua barang laku terjual sebelum periode penitipan dua bulan berakhir. Kalau pun tidak laku dalam periode itu biasanya pemilik juga tidak mengambil barangnya,” sebut Endang.
Selain administrasi penitipan dan display, Depobabe juga mengambil 10 persen barang yang terjual. Dari seluruh item yang dipajang di Depobabe barang elektronik seperti kulkas, televisi dan lainnya, serta perlengkapan bayi, dan sepeda yang paling banyak diincar pembeli.
Bapak dua putri ini mengaku usahanya mengalami kenaikan tiap tahunnya. Sayangnya ia tidak bersedia mengungkapkan nilai keuntungan dari usaha yang didirikan dengan modal awal Rp 20 juta ini. “Usaha ini memang agak lambat perkembangannya tetapi masih minim pesaing,” tandasnya.
Dengan semakin direkennya (diperhitungkannya) barang seken, minimnya persaingan bisa berarti suatu peluang. Anda tertarik menggelutinya?
Empat keunggulan Depobabe dibandingkan pasar tradisional barang bekas
1. Barang lebih bervariasi, mulai dari pemotong rumput sampai barang elektronik
2. Konsep harga jelas karena harga tertera pada lebel barang sehingga pembeli mempunyai
kemandirian untuk mengambil keputusan akan membeli barang tersebut atau tidak tanpa khawatir
tertipu
3. Mempunyai kesempatan mencoba barang tersebut sebelum membeli
4. Display tertata lebih rapi
Bisnis Perlengkapan Rumah Sakit, Omsetnya Kian Melejit
CV Nuri Teknik memfokuskan bisnis pada pembuatan alat-alat kedokteran dan rumah sakit. Tak hanya bermain di pasar domestik tapi juga melebarkan sayap hingga ke mancanegara.
Betapa praktisnya tempat tidur rumah sakit. Bagian kepala bisa terangkat, begitu pula bagian badan maupun kaki. Hanya tinggal kayuh saja sisi engkolnya atau hanya menekan tombol elektrik perintah. Tempat tidur khusus pasien tersebut memberikan kemudahan, tanpa harus merepotkan si pasien untuk bangun atau menggeser posisi tubuhnya sendiri. Banyak yang merasakan manfaat dari ranjang khusus tersebut. Namun tak banyak pula yang mengetahui pemain-pemain bisnis alat kedokteran dan rumah sakit, bahkan sekadar tahu siapa pembuat produk tersebut.
Di Indonesia sendiri, pemain lokal di bisnis tersebut tak banyak. Tentu saja ‘lahan kosong’ ini patut menjadi rebutan beberapa perusahaan lokal khusus pembuat alat kedokteran dan rumah sakit, CV Nuri Teknik- salah satunya. Perusahaan yang didirikan Ahmad Syarifudin pada September 1991 bahkan sudah melabarkan sayap hingga di tahun 1998, ia pun menegakkan perusahaan PT Sarandi Karya Nugraha.
“Dengan perlengkapan dan modal terbatas, saya memulai usaha pembuatan alat-alat dan perlengkapan rumah sakit. Saat itu, saya hanya mempunyai modal Rp 500 ribu rupiah ditambah satu gergaji tangan dan satu mesin bor tangan,” kata Ahmad yang membuat trolley USG sebagai produk perdananya.
Ia mengungkapkan, bisnis tersebut diilhami oleh Isep- adiknya yang bekerja di sebuah perusahaan supplier alat-alat kesehatan. Barang-barang hasil produksi perusahaan tersebut ternyata banyak produk impor. “Lantas, saya pun bertanya-tanya, ‘mengapa harus impor?’. Saya pun memberanikan diri mengajukan penawaran ke perusahaan tempat adik saya bekerja, saya meyakinkan perusahaan tersebut bahwa saya bisa membuat produk-produk yang mereka butuhkan,” imbuhnya.
Di atas areal seluas 10.000 meter persegi, Ahmad mengerjakan perlengkapan rumah sakit. Produk-produk buatannya pun diterima, bahkan di tahun 1992, ia mendapat tawaran khusus untuk mendesain dan membuat produk timbangan bayi. Dari hasil order 8000 unit timbangan bayi tersebut, ia meraup keuntungan yang cukup menggiurkan. Berikutnya order terus berlanjut berupa permintaan 28.000 unit lampu periksa, setelah itu susul menyusul pekerjaan datang ke tempat usaha yang berlokasi di Jalan Raya Sadamaya, Cibeber, Cianjur ini.“Hasil keuntungan tersebut saya belikan berbagai jenis mesin bekas sebanyak dua truk. Diantaranya, mesin bubut, mesin frais (untuk membuat pola, red), mesin scrapt, bor dan lainnya. Meskipun mesin-mesin yang dibeli buatan Eropa namun tak satu pun yang berfungsi, alias rongsokan,” ungkap peraih penghargaan Upakarti dan Perusahaan Kecil Menengah Terbaik Jawa Barat.
Ahmad yang dibantu 75 orang karyawan dan ratusan tenaga kerja lepas, mampu membuat beragam produk. Mulai dari jenis tempat tidur, meja operasi elektrik, ginecolog electric, meja periksa, trolley makan dan lampu periksa. Total produksinya pun berkisar hingga tiga ratus item dengan kapasitas produksi belasan ribu unit pertahun. “Untuk beberapa item tertentu sifatnya pesan baru diproduksi. Namun ada pula yang ready,” tangkasnya seraya mengupayakan peningkatan kapasitas dan kualitas produksinya.
Target pasar yang dilirik Ahmad tak hanya skala nasional tetapi juga ekspor, di antaranya ke Timur Tengah dan Swedia. Produk yang diekspor pun kebanyakan alat-alat kebidanan dan kursi ruang tunggu pasien. Sedangkan untuk pemasarannya sendiri dilakukan melalui supplier-supplier yang tersebar. Ahmad pun mengungkapkan, dirinya tak siap jika harus terjun langsung karena adanya faktor birokrasi, meskipun untuk konsumen lokal masih disanggupinya.
“Saya serius terjun ke dunia alat-alat kesehatan karena merasa bidang ini punya banyak tantangan. Setiap saat selalu muncul produk-produk baru dengan desain yang terus berkembang. Alhamdulillah, dapat memasuki dan bersaing di bidang ini. Selain itu, peluang di bidang ini cukup besar karena sedikitnya pemain yang mendalaminya,” paparnya yang mampu meraup omset milyaran rupiah per tahunnya.
Bersaing dengan pemain asing seperti Jerman dan China, tak menyiutkan nyali Ahmad untuk mendesain produk-produk bergaya moderen, praktis dan elegan. Salah satunya inspirasi membuat produk didapat dari kunjungan beberapa pameran baik dalam maupun luar negeri. Negara yang menjadi referensi pengembangan produknya adalah Jerman dan Singapura. Dan tak jarang pula browsing dari internet yang kemudian didesain sesuai keinginannya. “Saya tidak akan menampilkan produk dengan desain yang monoton,” tegasnya yang ‘rajin hunting’ ke Jerman satu tahun sekali.
Dari inspirasi ditambah referensi, ia pun mendesain sesuai permintaan pasar. Sementara untuk pengerjaannya, komponen-komponen pendukung dipisahkan dan dibagi kebeberapa sub di beberapa bengkel di Cianjur. Berbekal pendidikan di jurusan mesin Sekolah Teknik Mesin yang dimilikinya ternyata membantunya. Dari komponen yang terpisah, ia gabungkan dan jadilah produk-produk berfungsi guna.
“Pernah dari beberapa sub bengkel mencoba untuk menggabungkan menjadi produk seperti yang saya buat tetapi tidak bisa. Mungkin itulah kelebihan saya dalam memadu padankan komponen yang ada menjadi memiliki nilai jual,” ucap Ahmad yang memasang harga puluhan juta rupiah untuk produk ciptaannya.